Oleh: Dr. Sennahati, S.I.Kom., M.I.Kom.
Rektor Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa
Tanggal 25 Juni 2026 bertepatan dengan 10 Muharram 1448 Hijriah atau yang dikenal sebagai Hari Asyura menurut penetapan pemerintah dan Muhammadiyah. Hari yang memiliki makna spiritual mendalam ini menjadi salah satu momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan refleksi diri, memperkuat keimanan, dan memperluas kebermanfaatan sosial bagi sesama.
Dalam sejarah Islam, 10 Muharram bukan sekadar penanda kalender keagamaan. Hari Asyura mengajarkan nilai perjuangan, kesabaran, keteguhan prinsip, dan kemenangan kebenaran atas berbagai bentuk ketidakadilan. Momentum ini mengingatkan bahwa perubahan besar dalam kehidupan manusia selalu lahir dari keyakinan, pengorbanan, dan keberanian untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah berbagai tantangan bangsa saat ini, mulai dari persoalan kemiskinan, stunting, degradasi lingkungan, ketimpangan pendidikan, hingga disrupsi teknologi, semangat Asyura perlu diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang memberi solusi bagi masyarakat. Nilai religiusitas harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial.
Sebagai institusi pendidikan tinggi, Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa memandang bahwa 10 Muharram merupakan momentum strategis untuk meneguhkan kembali peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pengabdian kepada masyarakat, dan pembentukan karakter generasi bangsa. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial, integritas moral, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
Semangat Asyura juga mengajarkan pentingnya berbagi dan memperkuat solidaritas sosial. Dalam tradisi masyarakat Muslim, bulan Muharram dikenal sebagai bulan yang dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, membantu kaum dhuafa, menyantuni anak yatim, dan memperkuat ukhuwah. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan agenda pembangunan nasional yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dan pengurangan kesenjangan sosial.
Lebih jauh, peringatan 10 Muharram tahun ini hendaknya menjadi pengingat bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi, tetapi juga dari kualitas kepedulian sosial masyarakatnya. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan pembangunan karakter.
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, semangat Asyura dapat diwujudkan melalui gerakan kolektif menjaga lingkungan hidup, memperkuat ketahanan pangan, memberdayakan masyarakat desa, serta mengembangkan inovasi yang berpihak kepada kepentingan rakyat. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pelopor lahirnya solusi-solusi inovatif yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.
Sebagai bagian dari masyarakat akademik, kami mengajak seluruh civitas akademika, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen bangsa untuk menjadikan 10 Muharram sebagai titik tolak memperkuat kolaborasi dalam membangun Indonesia yang lebih maju, adil, dan berkelanjutan.
Mari kita jadikan Hari Asyura bukan hanya sebagai momentum ritual keagamaan, tetapi juga sebagai gerakan moral untuk menghadirkan lebih banyak manfaat bagi sesama. Sebab sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Selamat Memperingati 10 Muharram 1448 Hijriah.
Semoga semangat Asyura menginspirasi kita untuk terus menebar kebaikan, memperkuat persaudaraan, dan berkontribusi dalam membangun peradaban yang berkeadaban, berkemajuan, serta diridhai Allah SWT.