Oleh Muhammad Mansyur, S.Kom., M.I.Kom Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual
Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa
Makassar, Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi kesempatan yang tepat untuk merefleksikan kembali keteladanan tokoh-tokoh besar Islam yang memiliki kontribusi luas bagi peradaban. Salah satu figur yang memiliki relevansi kuat dalam konteks dakwah dan komunikasi kontemporer adalah Syekh Yusuf Al-Makassari. Selama ini, Syekh Yusuf lebih banyak dikaji dari aspek sejarah, tasawuf, dan perjuangan anti-kolonial. Namun, dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern, ketokohannya juga dapat ditinjau melalui perspektif Desain Komunikasi Visual (DKV), khususnya dalam kaitannya dengan penyampaian pesan, pembentukan identitas, dan komunikasi simbolik.
Desain Komunikasi Visual merupakan disiplin ilmu yang mempelajari bagaimana pesan disampaikan secara efektif melalui unsur visual, seperti simbol, warna, tipografi, ilustrasi, dan media komunikasi lainnya. Dalam konteks ini, dakwah yang dilakukan Syekh Yusuf dapat dipahami sebagai praktik komunikasi yang tidak hanya mengandalkan bahasa verbal, tetapi juga memanfaatkan kekuatan simbol dan representasi sosial. Keberhasilan beliau membangun pengaruh di berbagai wilayah menunjukkan adanya strategi komunikasi yang mampu menciptakan makna dan identitas yang kuat di tengah masyarakat.
Dari perspektif DKV, sosok Syekh Yusuf dapat dipandang sebagai sebuah “brand personal” yang memiliki karakter jelas dan konsisten. Dalam teori branding, identitas yang kuat dibangun melalui keselarasan antara pesan, perilaku, dan nilai yang ditampilkan kepada publik. Syekh Yusuf dikenal sebagai ulama yang berilmu, rendah hati, berani, dan berpihak pada keadilan. Citra tersebut terbentuk bukan melalui pencitraan semata, melainkan melalui tindakan nyata yang kemudian membangun persepsi positif di masyarakat. Dalam terminologi desain komunikasi visual, hal ini dapat disebut sebagai pembentukan identitas visual dan sosial yang autentik.
Kajian semiotika dalam DKV juga dapat digunakan untuk memahami ketokohan Syekh Yusuf. Semiotika mempelajari tanda dan makna yang terkandung dalam sebuah pesan. Kehadiran Syekh Yusuf di tengah masyarakat tidak hanya dipandang sebagai individu, tetapi juga sebagai simbol perjuangan, spiritualitas, dan kemerdekaan. Nama beliau menjadi tanda yang merepresentasikan nilai-nilai keislaman yang moderat, keberanian melawan ketidakadilan, serta komitmen terhadap kemanusiaan. Makna simbolik inilah yang membuat pengaruhnya tetap bertahan meskipun telah berabad-abad berlalu.
Dalam konteks desain naratif, perjalanan hidup Syekh Yusuf memiliki kekuatan storytelling yang sangat besar. Kisah seorang ulama dari Gowa yang menuntut ilmu ke Timur Tengah, kemudian berjuang melawan kolonialisme hingga diasingkan ke Afrika Selatan, merupakan narasi yang kaya akan nilai edukatif dan inspiratif. Dalam DKV modern, storytelling menjadi salah satu strategi komunikasi paling efektif karena mampu membangun keterlibatan emosional audiens. Narasi perjuangan Syekh Yusuf memiliki potensi besar untuk diangkat dalam berbagai media visual, seperti film dokumenter, ilustrasi digital, komik edukasi, animasi, hingga kampanye media sosial.
Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah juga dapat dimaknai sebagai ruang untuk merekonstruksi visualisasi ketokohan Syekh Yusuf bagi generasi muda. Tantangan yang dihadapi saat ini adalah minimnya representasi visual tokoh-tokoh lokal dalam media populer. Akibatnya, banyak generasi muda lebih mengenal tokoh global dibandingkan pahlawan dan ulama dari daerahnya sendiri. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan desain yang mampu menghadirkan sosok Syekh Yusuf secara menarik, modern, dan sesuai dengan karakteristik generasi digital.
Dalam teori komunikasi visual, warna memiliki kemampuan menyampaikan makna tertentu. Jika ketokohan Syekh Yusuf diterjemahkan ke dalam konsep visual, warna hijau dapat merepresentasikan spiritualitas dan nilai keislaman, warna emas melambangkan kebijaksanaan dan keagungan ilmu, sementara warna merah marun atau merah tua dapat menggambarkan keberanian dan semangat perjuangan. Kombinasi warna tersebut dapat menjadi identitas visual yang mencerminkan karakter utama Syekh Yusuf sebagai ulama, cendekiawan, dan pejuang.
Selain warna, tipografi dan simbol juga berperan penting dalam membangun komunikasi visual tentang Syekh Yusuf. Penggunaan tipografi yang tegas namun elegan dapat merepresentasikan keteguhan prinsip dan kedalaman ilmu yang dimiliki beliau. Sementara itu, simbol seperti kapal layar dapat menggambarkan perjalanan hijrah dan penyebaran dakwah lintas wilayah, kaligrafi melambangkan spiritualitas Islam, dan motif khas Sulawesi Selatan dapat menunjukkan akar budaya lokal yang melekat pada identitas beliau. Integrasi simbol-simbol tersebut akan menghasilkan komunikasi visual yang kaya makna dan mudah dikenali.
Dari sudut pandang desain media, era digital membuka peluang besar untuk memperkenalkan kembali pemikiran Syekh Yusuf kepada masyarakat luas. Melalui infografis, motion graphic, konten media sosial, hingga teknologi augmented reality, nilai-nilai yang diwariskan beliau dapat dikemas secara lebih interaktif dan menarik. Strategi ini sejalan dengan prinsip DKV yang menekankan pentingnya menyesuaikan bentuk pesan dengan karakteristik audiens tanpa mengurangi substansi yang ingin disampaikan.
Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi momentum strategis untuk menjadikan ketokohan Syekh Yusuf sebagai inspirasi dalam pengembangan desain komunikasi visual berbasis kearifan lokal. Di tengah arus globalisasi budaya dan informasi, penguatan identitas lokal melalui media visual menjadi kebutuhan yang semakin penting. Sosok Syekh Yusuf dapat menjadi ikon budaya dan pendidikan yang mampu memperkuat kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan sekaligus memperkenalkan nilai-nilai Islam Nusantara kepada dunia.
Pada akhirnya, kajian Desain Komunikasi Visual terhadap ketokohan Syekh Yusuf Al-Makassari menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah beliau tidak hanya terletak pada isi pesan yang disampaikan, tetapi juga pada kemampuannya membangun makna, identitas, dan simbol yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah mengajarkan bahwa semangat hijrah dapat diwujudkan melalui inovasi komunikasi visual yang kreatif, edukatif, dan berakar pada nilai-nilai luhur. Dengan demikian, warisan pemikiran dan perjuangan Syekh Yusuf tidak hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi juga dihadirkan kembali dalam bentuk visual yang relevan bagi generasi masa depan.