News Update

SUMPAH PEMUDA 2026: MENYIAPKAN GENERASI UNGGUL, MERAWAT PERSATUAN BANGSA

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh: Dr. Sennahati, S.I.Kom., M.I.Kom.

Rektor Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada sebuah peristiwa bersejarah yang mengubah arah perjalanan bangsa: Sumpah Pemuda 1928. Delapan puluh delapan tahun sebelum Indonesia merdeka? Bukan. Kini, pada 2026, kita memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda—sebuah momentum yang menegaskan bahwa Indonesia dibangun bukan semata-mata oleh kesamaan asal-usul, suku, bahasa, dan budaya, melainkan oleh kesadaran kolektif untuk menjadi satu bangsa.

Sumpah Pemuda bukan sekadar warisan sejarah yang diperingati melalui upacara, seremoni, dan pembacaan ikrar. Lebih dari itu, ia merupakan komitmen kebangsaan yang harus terus dihidupkan, diuji, dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Pertanyaan penting bagi kita hari ini bukan hanya bagaimana mengenang semangat para pemuda 1928, melainkan bagaimana menerjemahkan semangat tersebut menjadi kekuatan untuk menjawab tantangan Indonesia masa kini dan masa depan.

Persatuan di Tengah Perubahan Zaman

Indonesia saat ini menghadapi perubahan besar yang dipengaruhi oleh transformasi digital, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), persaingan global, serta perubahan sosial dan ekonomi yang berlangsung semakin cepat. Di tengah perkembangan tersebut, generasi muda memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak kemajuan. Namun, peluang itu juga disertai tantangan yang tidak sederhana.

Arus informasi yang begitu deras, penyebaran hoaks, polarisasi di ruang digital, ujaran kebencian, hingga kecenderungan menilai segala sesuatu secara dangkal dapat menggerus semangat persatuan apabila tidak diimbangi dengan literasi, kedewasaan berpikir, dan tanggung jawab sosial.

Teknologi seharusnya memperluas ruang kolaborasi, bukan memperdalam perpecahan. Media sosial semestinya menjadi sarana pertukaran gagasan, bukan tempat menyebarkan permusuhan. Kecerdasan buatan harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kehidupan manusia, bukan menggantikan tanggung jawab moral dalam berpikir dan bertindak.

Dalam konteks ini, semangat Sumpah Pemuda menemukan relevansinya. Jika generasi 1928 berani melampaui sekat-sekat kedaerahan demi cita-cita kebangsaan, generasi muda masa kini harus mampu melampaui sekat perbedaan pandangan, kepentingan, dan identitas tanpa kehilangan jati diri.

Persatuan tidak berarti menyeragamkan seluruh perbedaan. Persatuan justru menuntut kemampuan untuk menghormati perbedaan, membangun dialog, dan menemukan tujuan bersama. Indonesia akan kuat bukan karena seluruh warganya memiliki pemikiran yang sama, melainkan karena mereka mampu bekerja bersama di tengah keberagaman.

Pendidikan Tinggi dan Tanggung Jawab Mencetak Pemuda

Sebagai Rektor Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa, saya memandang bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam meneruskan cita-cita Sumpah Pemuda. Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat mentransfer pengetahuan dan mengejar capaian akademik. Perguruan tinggi harus menjadi ruang pembentukan karakter, pengembangan nalar kritis, penguatan integritas, serta penumbuhan kepedulian terhadap persoalan masyarakat dan bangsa.

Pendidikan tinggi harus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral, tangguh menghadapi perubahan, serta memiliki keberanian untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Di tengah kompetisi global, kemampuan akademik saja tidak cukup. Generasi muda perlu dibekali literasi digital, kecakapan komunikasi, kreativitas, kemampuan berkolaborasi, jiwa kewirausahaan, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua itu harus berpijak pada etika, kejujuran, dan tanggung jawab.

Karena itu, transformasi pendidikan tinggi harus diarahkan pada pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman dan persoalan nyata masyarakat. Mahasiswa perlu didorong untuk melakukan riset, menghasilkan inovasi, membangun usaha, mengembangkan solusi berbasis teknologi, dan terlibat dalam pemberdayaan masyarakat.

Kampus juga harus membuka ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk berdialog, berorganisasi, berkreasi, dan mengembangkan kepemimpinan. Dari ruang-ruang inilah lahir generasi yang terbiasa mengambil keputusan secara bertanggung jawab, menghargai perbedaan, dan bekerja untuk kepentingan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Bagi kami, pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik. Pendidikan adalah proses membangun manusia yang mampu menggunakan ilmu pengetahuannya untuk memberikan manfaat bagi sesama.

Dari Gowa untuk Indonesia: Pemuda Harus Menjadi Pelaku Perubahan

Semangat Sumpah Pemuda harus hadir di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Kabupaten Gowa dan kawasan Indonesia Timur. Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas tidak boleh hanya menjadi agenda kota-kota besar atau wilayah yang telah maju. Setiap anak bangsa, dari mana pun ia berasal, berhak memperoleh kesempatan yang adil untuk tumbuh, belajar, berinovasi, dan berkontribusi.

Daerah memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi unggul apabila didukung oleh pendidikan berkualitas, ekosistem inovasi, kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi, serta keterlibatan dunia usaha dan masyarakat.

Pemuda daerah tidak boleh hanya diposisikan sebagai penerima manfaat pembangunan. Mereka harus diberi kesempatan menjadi perancang, pelaksana, sekaligus pemimpin perubahan. Potensi lokal dalam bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, ekonomi kreatif, kewirausahaan, dan pengembangan teknologi dapat menjadi sumber lahirnya inovasi yang berdampak luas.

Perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai jembatan antara pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Riset harus menjawab persoalan nyata, pengabdian kepada masyarakat harus menghasilkan perubahan, dan lulusan harus memiliki kompetensi yang dibutuhkan sekaligus kepekaan terhadap kondisi lingkungannya.

Kita membutuhkan pemuda yang berani bermimpi besar tanpa melupakan akar budayanya; yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas nasionalnya; serta yang menguasai teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.

Dari Gowa, semangat tersebut harus terus kita tumbuhkan. Kemajuan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan di tingkat pusat, tetapi juga oleh kualitas manusia yang dibangun di setiap daerah.

Persatuan Harus Diterjemahkan Menjadi Karya

Salah satu tantangan terbesar dalam memperingati hari bersejarah adalah kecenderungan menjadikannya kegiatan seremonial tanpa perubahan yang berarti. Padahal, nilai Sumpah Pemuda akan kehilangan daya hidup apabila berhenti pada slogan dan pidato.

Karena itu, peringatan Sumpah Pemuda perlu menjadi momentum evaluasi bersama. Apakah pendidikan kita telah memberikan kesempatan yang adil kepada generasi muda? Apakah ruang digital kita semakin sehat dan produktif? Apakah kebijakan pembangunan telah membuka ruang partisipasi bagi pemuda? Apakah perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat telah bekerja sama menyiapkan masa depan generasi berikutnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab melalui tindakan nyata.

Pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang membuka akses pendidikan dan kesempatan kerja, mendorong inovasi, serta memberikan ruang partisipasi bagi pemuda. Perguruan tinggi harus meningkatkan mutu pembelajaran dan relevansi lulusan. Dunia usaha perlu memperluas kesempatan pengembangan kompetensi dan kewirausahaan. Sementara itu, generasi muda harus mengambil peran aktif dengan meningkatkan kapasitas diri, menjaga integritas, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

Kita tidak cukup hanya menuntut pemuda agar siap menghadapi masa depan. Kita juga harus memastikan bahwa ekosistem pendidikan, kebijakan, dan kesempatan sosial-ekonomi memberi mereka ruang untuk berkembang.

Pemuda bukan sekadar aset masa depan. Mereka adalah kekuatan masa kini yang perlu dipercaya, diberdayakan, dan dilibatkan dalam pembangunan.

Meneguhkan Nasionalisme yang Berkarakter dan Berakhlak

Nasionalisme di era modern perlu diwujudkan melalui cara yang lebih substantif. Mencintai Indonesia berarti menjaga persatuan, menghormati hukum, merawat lingkungan, melawan korupsi, menolak diskriminasi, serta berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Nasionalisme juga berarti keberanian untuk memperbaiki kekurangan bangsa melalui kritik yang bertanggung jawab, gagasan yang konstruktif, dan tindakan yang berorientasi pada kepentingan umum.

Bagi generasi muda, nasionalisme harus berjalan seiring dengan penguasaan ilmu pengetahuan, keterbukaan terhadap kemajuan, dan penguatan karakter. Kemajuan teknologi tanpa etika dapat menimbulkan persoalan baru. Kecerdasan tanpa integritas dapat kehilangan arah. Sebaliknya, ilmu pengetahuan yang disertai akhlak akan menjadi kekuatan untuk membangun peradaban yang lebih baik.

Dalam perspektif tersebut, nilai-nilai keislaman seperti amanah, kejujuran, keadilan, persaudaraan, dan kemaslahatan memiliki relevansi penting dalam membentuk generasi yang unggul sekaligus berkarakter. Keberagaman bangsa harus dirawat melalui sikap saling menghormati, sedangkan perbedaan harus dikelola dengan kedewasaan dan semangat persaudaraan kebangsaan.

Kita membutuhkan generasi yang bukan hanya bertanya tentang apa yang dapat diperoleh dari Indonesia, tetapi juga memikirkan apa yang dapat diberikan kepada Indonesia.

Penutup: Sumpah Pemuda sebagai Janji untuk Masa Depan

Sembilan puluh delapan tahun setelah ikrar bersejarah itu dikumandangkan, pesan Sumpah Pemuda tetap relevan: persatuan adalah kekuatan, pendidikan adalah jalan kemajuan, dan pemuda adalah salah satu penentu arah masa depan bangsa.

Namun, masa depan Indonesia tidak akan hadir dengan sendirinya. Ia harus disiapkan melalui pendidikan yang bermutu, kepemimpinan yang berintegritas, kebijakan yang berpihak pada pengembangan manusia, serta generasi muda yang berani mengambil tanggung jawab.

Momentum 28 Oktober 2026 hendaknya menjadi pengingat bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar warisan yang kita banggakan, melainkan amanah yang harus kita tunaikan.

Mari kita jadikan kampus sebagai ruang lahirnya gagasan, teknologi sebagai sarana kemajuan, keberagaman sebagai kekuatan, dan persatuan sebagai landasan untuk melangkah bersama.

Sebab, Indonesia yang besar tidak hanya dibangun oleh generasi yang cerdas, tetapi oleh generasi yang mampu menyatukan kecerdasan, integritas, kepedulian, dan pengabdian.

Dari semangat Sumpah Pemuda, kita teguhkan tekad untuk menyiapkan generasi unggul, memperkuat persatuan, dan membangun Indonesia yang maju, adil, bermartabat, serta berdaya saing global.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026. Bersatu dalam keberagaman, unggul dalam karya, dan teguh dalam pengabdian kepada bangsa.

Dr. Sennahati, S.I.Kom., M.I.Kom.

Rektor Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
News Update Terkait

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami