News Update

Maulid Nabi dan Relevansi Keteladanan Rasulullah SAW di Tengah Krisis Keteladanan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Dr. Sennahati, S.I.Kom., M.I.Kom. Rektor Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa

Setiap 12 Rabiul Awal, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tahun ini, 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah bertepatan dengan 25 Agustus 2026. Momentum ini bukan sekadar peringatan historis atas kelahiran seorang manusia mulia, melainkan kesempatan untuk kembali membaca, memahami, dan menghidupkan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan personal, sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Maulid Nabi semestinya tidak berhenti pada seremoni, lantunan selawat, pengajian, atau perayaan yang berlangsung sesaat. Lebih dari itu, Maulid adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana nilai-nilai yang diwariskan Rasulullah telah hadir dalam perilaku kita sehari-hari?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika masyarakat menghadapi perubahan sosial yang begitu cepat. Kemajuan teknologi digital telah membuka ruang komunikasi tanpa batas. Informasi bergerak dalam hitungan detik, media sosial menjadi ruang interaksi publik, dan kecerdasan buatan berkembang dengan sangat pesat. Namun, kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan karakter.

Kita dapat menyaksikan bagaimana ruang digital terkadang dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, disinformasi, perundungan, polarisasi, dan budaya saling menghakimi. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat justru menghadapi persoalan baru: krisis kepercayaan dan krisis keteladanan. Dalam konteks inilah keteladanan Rasulullah SAW menemukan relevansinya.

Rasulullah dan Etika Komunikasi

Sebagai seorang yang berkecimpung dalam bidang komunikasi dan pendidikan, saya melihat salah satu warisan terpenting Rasulullah SAW adalah bagaimana beliau membangun komunikasi yang berlandaskan kebenaran, kejujuran, kesantunan, dan penghormatan terhadap manusia. Rasulullah tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menghadirkan keteladanan dalam cara menyampaikan pesan.

Di era digital, prinsip tersebut menjadi sangat penting. Setiap orang kini memiliki kemampuan untuk menjadi komunikator sekaligus produsen informasi. Sebuah unggahan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang. Karena itu, kebebasan berekspresi harus berjalan bersama tanggung jawab moral.

Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang menyakiti, dan tidak semua yang viral layak untuk dipercaya.

Semangat tabayun, kejujuran, amanah, dan menjaga kehormatan sesama menjadi nilai yang semakin penting untuk dihidupkan dalam ekosistem komunikasi digital.

Dari Keteladanan Menuju Peradaban

Rasulullah SAW memberikan pelajaran bahwa membangun masyarakat tidak cukup hanya dengan kecerdasan, tetapi membutuhkan karakter. Kecerdasan tanpa integritas dapat menjadi alat untuk melakukan manipulasi. Kekuasaan tanpa amanah dapat melahirkan ketidakadilan. Teknologi tanpa etika dapat menjadi instrumen yang justru merusak kehidupan manusia. Karena itu, pembangunan sumber daya manusia Indonesia harus menempatkan karakter, moral, ilmu pengetahuan, dan kompetensi sebagai satu kesatuan.

Perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam agenda tersebut. Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat mencetak lulusan yang memiliki kemampuan akademik dan profesional, tetapi juga harus menjadi ruang pembentukan manusia yang memiliki integritas, kepedulian sosial, tanggung jawab, dan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran.

Pendidikan tinggi harus mampu melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.

Keteladanan sebagai Fondasi Kepemimpinan

Keteladanan Rasulullah juga memberikan pelajaran penting bagi dunia kepemimpinan. Kepemimpinan bukan semata-mata tentang jabatan, kewenangan, atau kemampuan mengambil keputusan.

Kepemimpinan adalah tentang amanah, keberpihakan kepada kebenaran, kemampuan mendengar, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kesediaan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Di tengah tuntutan perubahan zaman, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mampu menjadi teladan, bukan sekadar menjadi figur. Pemimpin yang kata dan perbuatannya berjalan beriringan. Pemimpin yang mampu menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi. Pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai sarana pengabdian, bukan sebagai tujuan.

Dalam perspektif tersebut, Maulid Nabi menjadi momentum untuk melakukan refleksi kepemimpinan kita baik sebagai pemimpin lembaga, pemimpin organisasi, pemimpin keluarga, maupun sebagai pemimpin bagi diri sendiri.

Maulid dan Tanggung Jawab Menjaga Lingkungan

Keteladanan Rasulullah SAW juga sangat relevan dengan tantangan ekologis yang dihadapi manusia hari ini. Krisis iklim, pencemaran lingkungan, berkurangnya keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, serta eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan lingkungan membutuhkan perhatian serius. Manusia bukan sekadar pengguna sumber daya alam. Manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan kehidupan.

Karena itu, semangat Maulid Nabi perlu diterjemahkan menjadi gerakan nyata untuk membangun kehidupan yang lebih ramah lingkungan. Menjaga kebersihan, mengurangi pemborosan, mengelola sampah, merawat alam, dan menggunakan sumber daya secara bijaksana merupakan bagian dari tanggung jawab moral kita sebagai manusia.

Kecintaan kepada Rasulullah semestinya melahirkan kecintaan kepada kehidupan dan kepedulian kepada sesama serta lingkungan.

Generasi Muda dan Masa Depan Keteladanan

Tantangan terbesar kita hari ini adalah bagaimana memastikan nilai-nilai keteladanan tersebut dapat diterima dan dihidupkan oleh generasi muda. Generasi muda hidup dalam dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan perubahan teknologi yang sangat cepat. Karena itu, pendekatan pendidikan juga harus berubah. Generasi muda tidak cukup hanya diberi nasihat. Mereka membutuhkan contoh nyata.

Mereka membutuhkan orang tua yang menjadi teladan, guru yang menginspirasi, dosen yang berintegritas, pemimpin yang amanah, serta lingkungan sosial yang memberikan ruang bagi tumbuhnya nilai-nilai kebaikan. Di sinilah kita memahami bahwa keteladanan memiliki daya pendidikan yang jauh lebih kuat daripada sekadar kata-kata.

Maulid sebagai Momentum Transformasi

Pada akhirnya, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah mengingat kembali misi kemanusiaan yang dibawa Rasulullah: membangun kehidupan yang berlandaskan keimanan, ilmu, akhlak, keadilan, kasih sayang, dan kemaslahatan. Karena itu, saya memandang Maulid bukan hanya sebagai momentum untuk mengenang Rasulullah, tetapi juga momentum untuk mengevaluasi diri.

Sudahkah kita jujur dalam menjalankan amanah? Sudahkah kita santun dalam berkomunikasi? Sudahkah kita menghargai perbedaan? Sudahkah ilmu yang kita miliki memberi manfaat? Sudahkah jabatan yang kita emban menjadi jalan pengabdian? Dan sudahkah kehadiran kita memberikan kebaikan bagi orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk kita jawab dengan tindakan, bukan sekadar dengan kata-kata.

Maulid Nabi harus menjadi momentum transformasi dari keteladanan yang dikenang menjadi keteladanan yang diamalkan.

Jika nilai kejujuran menjadi budaya, amanah menjadi karakter, ilmu menjadi jalan pengabdian, komunikasi menjadi sarana membangun persaudaraan, dan kepedulian menjadi gerakan bersama, maka sesungguhnya kita telah menghadirkan spirit Rasulullah SAW dalam kehidupan modern.

Menjadikan Akhlak sebagai Jalan Masa Depan

Di tengah dunia yang semakin kompleks, manusia membutuhkan kemajuan teknologi, tetapi juga membutuhkan kompas moral. Kita membutuhkan kecerdasan buatan, tetapi tidak boleh kehilangan kecerdasan nurani. Kita membutuhkan kemajuan ekonomi, tetapi tidak boleh kehilangan kepedulian sosial. Kita membutuhkan kebebasan, tetapi harus tetap memiliki tanggung jawab. Itulah sebabnya, keteladanan Rasulullah SAW akan selalu relevan melampaui ruang dan waktu.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 H.

Mari menjadikan Maulid sebagai momentum memperkuat keimanan, memperbaiki akhlak, membangun komunikasi yang santun, memperkokoh persaudaraan, meningkatkan kepedulian sosial, menjaga lingkungan, serta menghadirkan pendidikan yang mencerdaskan sekaligus memanusiakan. Semoga spirit keteladanan Rasulullah SAW senantiasa menerangi langkah kita dalam membangun masyarakat dan bangsa yang berilmu, berakhlak, berkeadaban, dan berkemajuan.

“Meneladani Rasulullah bukan hanya dengan mengingat kelahirannya, tetapi dengan menghadirkan akhlaknya dalam setiap langkah kehidupan.”

Dr. Sennahati, S.I.Kom., M.I.Kom. Rektor Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
News Update Terkait

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami