SENNTV.ID, Makassar – Suasana haru dan penuh kebanggaan mewarnai acara pelepasan siswa RA Islam Mandiri Tahun Pelajaran 2025/2026 yang digelar pada Selasa (16/6/2026). Sebanyak 14 siswa resmi dilepas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah dasar, menandai berakhirnya masa belajar mereka di lembaga pendidikan anak usia dini yang telah berdiri sejak tahun 1995 tersebut.
Mengusung tema “Jejak Ceria Kita Diukir Hari Ini, Semangat Menuju Masa Depan”, kegiatan pelepasan bukan hanya menjadi momen perpisahan, tetapi juga refleksi atas perjalanan panjang RA Mandiri dalam mencetak generasi berkarakter selama hampir tiga dekade.
Kepala sekolah dan para pendidik menilai, kelulusan tahun ini memiliki makna istimewa karena menjadi bagian dari perjalanan sekitar 30 angkatan alumni yang telah lahir dari RA Islam Mandiri sejak pertama kali didirikan. Selama 30 tahun, lembaga pendidikan yang terletak di BTN TABARIA, Jl. Dg Tata 1 No.6 Blok A9, Parang Tambung, Tamalate, Kota Makassar ini tetap berpegang pada visi yang sama, yakni membentuk anak-anak yang saleh dan salehah dengan landasan akhlakul karimah, sekaligus membekali mereka dengan kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung.
Menurut pihak sekolah, konsistensi tersebut menjadi salah satu faktor utama tumbuhnya kepercayaan masyarakat. Tidak sedikit orang tua yang dahulu pernah mengenyam pendidikan di RA Islam Mandiri kini mempercayakan pendidikan anak-anak mereka di tempat yang sama.
Perkembangan teknologi dan media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan anak usia dini. Anak-anak masa kini tumbuh sebagai generasi digital yang akrab dengan berbagai platform informasi sejak usia dini.
Di satu sisi, teknologi memberikan ruang yang luas bagi perkembangan kreativitas anak. Namun di sisi lain, paparan informasi yang serba instan dinilai berpotensi mengurangi fokus anak terhadap proses pembelajaran dasar di sekolah.
Pihak sekolah mengamati bahwa sebagian anak lebih cepat memahami informasi yang diperoleh dari media sosial dibandingkan materi yang disampaikan guru di kelas. Kondisi ini menjadi tantangan baru bagi para pendidik untuk menghadirkan proses belajar yang menarik sekaligus bermakna.

“Tantangannya adalah kreativitas anak semakin berkembang, tetapi mereka juga berisiko melupakan proses pembelajaran dasar. Banyak yang lebih tertarik pada informasi dari media sosial dibandingkan arahan guru di sekolah,” ungkap Andi Suryaningsih salah seorang pendidik.
Untuk menjawab tantangan tersebut, RA Islam Mandiri menerapkan pendekatan pembelajaran yang mengombinasikan kegiatan bermain dengan pengenalan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung).
Metode ini dirancang agar anak tetap dapat menikmati masa bermain sesuai tahap perkembangannya, namun tetap memperoleh bekal akademik yang dibutuhkan saat memasuki pendidikan dasar.
Melalui pendekatan yang menyenangkan, para guru menyisipkan materi literasi dan numerasi ke dalam berbagai aktivitas kreatif sehingga anak dapat belajar tanpa merasa terbebani. Hasilnya, banyak lulusan RA Islam Mandiri yang telah memiliki kemampuan membaca dan menulis dasar sebelum memasuki sekolah dasar.
Di balik keberhasilan mendidik generasi muda, pihak sekolah juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik, khususnya guru yayasan atau non-PNS.
Menurut mereka, peningkatan kesejahteraan guru menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas pendidikan anak usia dini. Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat menghadirkan regulasi pendidikan yang lebih stabil dan tidak sering berubah, sehingga sekolah dapat menjalankan program pembelajaran secara berkelanjutan.

Pelepasan siswa tahun ajaran 2025/2026 menjadi langkah awal bagi para lulusan untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. RA Islam Mandiri berharap nilai-nilai karakter, akhlak mulia, serta kemampuan dasar yang telah ditanamkan selama masa belajar dapat menjadi bekal menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang.
Memasuki era digital, kecerdasan buatan, dan otomatisasi, RA Islam Mandiri meyakini bahwa karakter tetap menjadi fondasi utama yang harus dimiliki setiap anak. Perjalanan hampir 30 tahun lembaga ini menjadi bukti bahwa meskipun metode pembelajaran terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, nilai-nilai moral dan pendidikan karakter tetap menjadi pondasi yang tidak boleh ditinggalkan.