News Update

Pramuka di Era Digital: Menjaga Karakter, Menyalakan Kepemimpinan Generasi Masa Depan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Dr. Sennahati, S.I.Kom., M.I.Kom.

Rektor Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa

 

Kemajuan zaman boleh mengubah cara manusia hidup, belajar, dan berkomunikasi, tetapi tidak boleh mengubah nilai yang menjadi fondasi kehidupan. Di tengah derasnya teknologi dan arus informasi, generasi muda membutuhkan bukan hanya kecerdasan, tetapi juga karakter, integritas, kepedulian, dan kemampuan memimpin.

Setiap 14 Agustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Pramuka. Namun, di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, peringatan ini seharusnya tidak berhenti pada upacara, seragam, dan kegiatan seremonial. Hari Pramuka perlu menjadi momentum untuk kembali bertanya: generasi seperti apa yang sedang kita siapkan untuk Indonesia di masa depan?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika generasi muda hari ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka hidup dalam ekosistem digital yang ditandai oleh kecepatan informasi, media sosial, kecerdasan buatan, dan perubahan teknologi yang berlangsung hampir tanpa jeda.

Teknologi memberikan peluang yang luar biasa. Namun, teknologi tidak dengan sendirinya membentuk manusia yang berkarakter.

Di sinilah nilai-nilai kepramukaan menemukan relevansinya.

Pramuka bukan sekadar kegiatan kepanduan. Pramuka adalah proses pendidikan karakter. Di dalamnya terdapat nilai kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, kepemimpinan, gotong royong, keberanian, kepedulian terhadap sesama, serta kecintaan terhadap bangsa dan lingkungan.

Nilai-nilai tersebut justru semakin penting ketika generasi muda menghadapi dunia yang serba cepat dan penuh distraksi.

Ketika Dunia Berubah, Nilai Tidak Boleh Hilang

Kita sedang menyaksikan perubahan besar dalam cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan berinteraksi. Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan, misalnya, telah membuka ruang baru dalam pendidikan, industri, pemerintahan, bahkan kehidupan sosial.

Generasi muda harus mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Tetapi adaptasi tanpa karakter dapat menjadi persoalan tersendiri.

Kita membutuhkan generasi yang mampu menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak teknologi. Generasi yang aktif di media sosial, tetapi tetap memiliki etika sosial. Generasi yang mampu memanfaatkan kecerdasan buatan, tetapi tetap mengedepankan kecerdasan moral dan kemanusiaan.

Karena itu, semangat kepramukaan harus ikut hadir di ruang digital.

Jika dahulu seorang Pramuka dituntut mampu menjaga lingkungan di alam terbuka, maka hari ini seorang Pramuka juga harus mampu menjaga ekosistem digital.

Menjaga ruang digital berarti tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, tidak melakukan perundungan siber, menghormati privasi orang lain, tidak menjadikan media sosial sebagai ruang kebencian, serta mampu menggunakan teknologi untuk menghasilkan karya yang bermanfaat.

Pramuka masa kini harus menjadi generasi yang bukan hanya cakap digital, tetapi juga beradab secara digital.

Dari Pendidikan Karakter Menuju Kepemimpinan

Bangsa Indonesia tidak kekurangan anak muda yang cerdas. Tantangan kita adalah memastikan kecerdasan tersebut tumbuh bersama karakter dan kepemimpinan.

Seorang pemimpin masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Ia harus mampu mendengarkan, bekerja sama, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.

Kepemimpinan semacam itu tidak lahir secara instan.

Ia dibentuk melalui pengalaman.

Di sinilah kegiatan kepramukaan memiliki nilai strategis. Melalui kegiatan kelompok, pengabdian, keterampilan, tantangan, dan interaksi dengan masyarakat, seorang anak muda belajar bahwa kehidupan bukan hanya tentang dirinya sendiri.

Ia belajar bahwa keberhasilan membutuhkan kerja sama. Ia belajar bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Ia belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling tinggi berdiri, tetapi tentang siapa yang paling bersedia bertanggung jawab dan melayani.

Inilah esensi kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia.

Kampus Harus Menjadi Ruang Tumbuh Karakter

Sebagai perguruan tinggi, Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa memandang pendidikan sebagai proses membangun manusia secara utuh.

Perguruan tinggi tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah dan kompetensi akademik. Kampus harus melahirkan insan yang mampu menghadirkan solusi, memiliki integritas, peka terhadap persoalan masyarakat, serta siap mengambil peran dalam pembangunan.

Dalam konteks ini, nilai-nilai kepramukaan memiliki relevansi yang kuat dengan pendidikan tinggi.

Mahasiswa harus didorong menjadi pribadi yang kritis tetapi santun, cerdas tetapi rendah hati, kompetitif tetapi tetap memiliki solidaritas, serta menguasai teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.

Kampus harus menjadi laboratorium kepemimpinan. Ruang kelas memberikan pengetahuan, sementara organisasi kemahasiswaan, kegiatan sosial, penelitian, pengabdian masyarakat, kewirausahaan, dan berbagai aktivitas lainnya memberikan pengalaman nyata untuk mengimplementasikan pengetahuan tersebut.

Sebab pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang diketahui, tetapi juga apa yang dilakukan dengan pengetahuan itu.

Pramuka dan Indonesia Emas

Indonesia sedang menyiapkan generasi yang kelak akan menjadi penentu arah bangsa. Mereka yang hari ini duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi akan menjadi pemimpin, profesional, akademisi, wirausahawan, birokrat, pekerja kreatif, dan penggerak masyarakat di masa mendatang.

Maka, pembangunan manusia harus menjadi prioritas.

Kita membutuhkan generasi yang berani menghadapi dunia global tanpa kehilangan identitas kebangsaan. Generasi yang mampu bersaing secara internasional tetapi tetap memiliki kepedulian terhadap persoalan di sekitarnya.

Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari bangsa ini?”, tetapi juga berani bertanya, “Apa yang dapat saya berikan untuk bangsa ini?”

Pertanyaan kedua inilah yang sejalan dengan semangat pengabdian dalam gerakan Pramuka.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah generasi bukan hanya seberapa tinggi pencapaian personalnya, tetapi juga seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada masyarakat.

Menjaga Api Pramuka di Tengah Perubahan Zaman

Hari Pramuka hendaknya menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa tidak hanya dibangun oleh teknologi dan infrastruktur, tetapi juga oleh manusia yang memiliki karakter.

Teknologi dapat menciptakan efisiensi. Ilmu pengetahuan dapat menciptakan inovasi. Tetapi karakter menentukan ke mana semua kemajuan itu diarahkan.

Karena itu, tugas kita bersama bukan memilih antara Pramuka atau teknologi. Justru sebaliknya, kita harus mempertemukan nilai-nilai luhur kepramukaan dengan kemajuan teknologi.

Biarkan generasi muda menjadi generasi digital yang produktif. Biarkan mereka menjadi inovator, kreator, dan pemimpin masa depan. Namun, pastikan di dalam dirinya tetap tumbuh kejujuran, disiplin, keberanian, tanggung jawab, kepedulian, dan semangat pengabdian.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki generasi cerdas, tetapi bangsa yang memiliki generasi cerdas yang berkarakter.

Pada akhirnya, Hari Pramuka bukan sekadar tentang mengenang perjalanan sebuah gerakan. Ini adalah tentang memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada generasi muda tetap hidup dan relevan dalam menghadapi masa depan.

Dari bumi perkemahan menuju ruang digital. Dari keterampilan menuju kepemimpinan. Dari pendidikan karakter menuju pengabdian.

Mari kita jadikan Pramuka sebagai salah satu kekuatan untuk menyiapkan generasi muda Indonesia yang berkarakter, adaptif, berintegritas, dan siap menjadi pemimpin perubahan.

Karena masa depan Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu mengikuti perubahan.

Indonesia membutuhkan generasi yang mampu mengarahkan perubahan menuju masa depan yang lebih manusiawi, berkeadilan, dan bermartabat.

Selamat Hari Pramuka.

Salam Pramuka!

Dr. Sennahati, S.I.Kom., M.I.Kom. Rektor Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
News Update Terkait

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami