News Update

Refleksi Ramadhan: Meneladani Spiritualitas dan Keteguhan Syekh Yusuf Al Makassari

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Oleh Dr. Sennahati, S.I.Kom., M.I.Kom

Rektor Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa

Bulan Suci Ramadhan adalah madrasah ruhani yang setiap tahun hadir untuk menyucikan jiwa, meneguhkan iman, dan memperhalus akhlak kita sebagai insan beriman. Ramadhan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, melainkan ruang pembelajaran spiritual untuk menumbuhkan kesabaran, kejujuran, solidaritas sosial, serta ketundukan total kepada Allah SWT.

Dalam konteks inilah, kita patut menengok kembali keteladanan Syekh Yusuf Al Makassari, seorang ulama besar, pejuang, dan tokoh spiritual dunia yang namanya kita abadikan sebagai identitas universitas ini. Beliau bukan hanya simbol sejarah, melainkan sumber inspirasi moral yang relevan sepanjang zaman termasuk di bulan suci Ramadhan.

Syekh Yusuf dikenal sebagai ulama yang mendalam ilmunya, luas perjalanannya, dan kokoh pendiriannya. Ia menempuh rihlah ilmiah ke berbagai pusat peradaban Islam, memperkaya diri dengan ilmu tasawuf, fikih, dan tauhid. Namun yang paling mengagumkan adalah kemampuannya membumikan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan nyata. Baginya, ibadah bukan hanya ritual, melainkan energi transformasi yang melahirkan akhlak mulia dan keberanian moral.

Ramadhan mengajarkan kita hal yang sama. Puasa melatih kita mengendalikan hawa nafsu. Shalat malam meneguhkan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Zakat dan sedekah menguatkan dimensi horizontal kemanusiaan. Semua ini adalah nilai yang hidup dalam perjuangan Syekh Yusuf keteguhan iman yang menyatu dengan kepedulian sosial.

Beliau tidak hanya berdakwah dengan kata-kata, tetapi dengan keteladanan sikap. Ia menghadapi pengasingan, tekanan, dan penderitaan akibat konsistensinya melawan ketidakadilan. Namun dalam setiap ujian, ia menunjukkan kesabaran, keteguhan, dan tawakal. Ramadhan pun sejatinya adalah latihan menghadapi ujian. Di tengah tantangan kehidupan modern krisis moral, degradasi etika, dan derasnya arus materialism kita memerlukan keteguhan iman seperti yang dicontohkan Syekh Yusuf. Kesalehan tidak cukup bersifat personal; ia harus melahirkan keberanian membela kebenaran dan menjaga integritas.

Sebagai institusi pendidikan, Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa memaknai Ramadhan sebagai momentum memperkuat pendidikan karakter. Ilmu pengetahuan tanpa akhlak akan kehilangan arah. Sebaliknya, akhlak yang kuat akan menjadikan ilmu sebagai cahaya yang menerangi peradaban. Nilai-nilai yang diwariskan Syekh Yusuf keikhlasan, kedisiplinan, kesederhanaan, dan keberpihakan pada keadilan harus menjadi ruh dalam setiap proses pendidikan.

Sebagai Rektor, saya mengajak seluruh civitas akademika para dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat integritas akademik dan karakter spiritual. Dosen bukan hanya pengajar, tetapi teladan akhlak. Tenaga kependidikan bukan sekadar pelaksana administrasi, tetapi penjaga amanah. Mahasiswa bukan hanya pencari gelar, melainkan calon pemimpin masa depan yang harus ditempa dengan nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab.

Syekh Yusuf mengajarkan bahwa intelektualitas dan spiritualitas tidak boleh dipisahkan. Keduanya harus berjalan beriringan. Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan peradaban.

Kepada masyarakat luas, mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat solidaritas dan persaudaraan. Di tengah tantangan sosial, ekonomi, dan moral yang kita hadapi, kebaikan sekecil apa pun memiliki makna besar. Senyum, empati, bantuan kepada yang membutuhkan, serta kejujuran dalam setiap peran sosial adalah wujud nyata ibadah.

Meneladani Syekh Yusuf berarti berani menegakkan kebenaran dengan hikmah, menjaga persatuan, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta. Keteguhan beliau dalam menghadapi ketidakadilan menjadi pelajaran bahwa iman harus melahirkan keberanian, dan keberanian harus dibingkai dengan kebijaksanaan.

Ramadhan bukan tujuan akhir, melainkan titik tolak perubahan. Jangan biarkan ia berlalu tanpa meninggalkan jejak dalam jiwa kita. Jadikan bulan suci ini sebagai awal pembenahan diri, pembaruan niat, dan penguatan komitmen untuk terus berbuat baik di ruang kelas, di kantor, di rumah, dan di tengah masyarakat.

Mari kita jadikan keteladanan Syekh Yusuf Al Makassari sebagai kompas moral dalam perjalanan akademik dan kehidupan berbangsa. Dengan ilmu yang tercerahkan dan akhlak yang dimuliakan, kita berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga luhur secara spiritual.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, menguatkan langkah kita dalam kebaikan, dan menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai cahaya yang menerangi perjalanan hidup kita semua. Aamiin Ya Rabbal Alamiin

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
News Update Terkait

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami