Makassar — Politeknik Indonesia melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat melaksanakan program “Adaptasi Model Pengelolaan Limbah Eco-Community untuk Mitigasi Penyakit Berbasis Lingkungan di Kampung Amanah Kota Makassar.”
Program ini menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam mendorong masyarakat untuk membangun sistem pengelolaan limbah yang lebih terpilah, sehat, aman, dan berkelanjutan melalui pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Keneterian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Tahun Anggaran 2026 dengan Mitra Sasaran adalah Posko Yatim selaku pengelola Masjid di Kampung Amanah Makassar.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan Eco-Community, yaitu model pengelolaan lingkungan yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengurangi risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh pengelolaan sampah yang kurang tepat.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Indonesia, Risnawati Anwas, menjelaskan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan kesehatan masyarakat, keselamatan diri dan juga perilaku hidup bersih dan sehat.
Mendorong Pemilahan Sampah dari Sumber
Salah satu inovasi yang dikembangkan dalam kegiatan ini adalah Sorting Hub Eco-Community Kampung Amanah. Fasilitas tersebut dirancang sebagai pusat pemilahan sampah berbasis masyarakat yang mendukung proses pengumpulan dan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya.
Masyarakat diarahkan untuk mengenali dan memilah sampah sejak dari sumber, terutama menjadi sampah organik, anorganik, dan residu. Kegiatan ini diharapkan dapat membuat pengelolaan sampah menjadi lebih mudah sekaligus membuka peluang pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.
Melalui pemanfaatan Sorting Hub, sampah yang telah dikumpulkan dapat ditangani sesuai karakteristiknya. Sampah organik dapat diarahkan untuk pengolahan, sedangkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai dapat disalurkan melalui mekanisme pengelolaan dan pemanfaatan yang sesuai. Sementara itu, sampah residu diarahkan untuk penanganan lebih lanjut sesuai sistem pengelolaan sampah yang berlaku.
“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang. Dengan pemilahan yang benar, sebagian sampah dapat dimanfaatkan kembali, nilai ekonominya meningkat, sementara sampah yang tidak dapat dimanfaatkan (residu) dapat ditangani secara lebih tepat,” jelas Risnawati.
Menurut Risnawati, pembangunan atau penyediaan fasilitas saja tidak cukup untuk menghasilkan perubahan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, program juga dilengkapi dengan edukasi, pelatihan, praktik pemilahan, serta pendampingan kepada masyarakat.
Masyarakat diberikan pemahaman mengenai jenis-jenis sampah, cara melakukan pemilahan, manfaat pengelolaan sampah, serta keterkaitan antara kebersihan lingkungan dengan kesehatan.
Tim pengabdian juga mengembangkan media pembelajaran berupa modul “Cerdas Pilah Sampah, Lingkungan Bersih-Sehat-Aman” sebagai salah satu sarana edukasi masyarakat. Modul tersebut dirancang menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga dapat digunakan sebagai panduan dalam praktik pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat.
Pendekatan ini diharapkan dapat membangun perubahan perilaku secara bertahap. Masyarakat tidak hanya mengetahui jenis sampah, tetapi juga mampu menerapkan pemilahan dan pengelolaan sampah dalam kehidupan sehari-hari.
Membangun Masyarakat yang Berdaya
Program Eco-Community di Kampung Amanah juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas dan kemandirian masyarakat. Dalam model ini, masyarakat tidak ditempatkan sebagai penerima manfaat semata, tetapi sebagai pelaku utama pengelolaan lingkungan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, mitra masyarakat dan pihak terkait menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Perguruan tinggi berperan dalam memberikan pengetahuan, teknologi, pendampingan dan penguatan kapasitas, sedangkan masyarakat menjadi penggerak utama penerapan model di lingkungan mereka.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan satu fasilitas Sorting Hub. Yang lebih penting adalah bagaimana fasilitas tersebut digunakan dan dikelola oleh masyarakat secara berkelanjutan. Karena itu, keberhasilan program kami ukur dari perubahan pengetahuan, keterampilan, partisipasi dan praktik masyarakat dalam mengelola sampah,” ungkapnya.
(Posko Yatim, Kampung Amanah Makassar, Rabu, 19 Agustus 2026).
Tim Pelaksana Kegiatan Pengabdian :
- Risnawati Anwas, S.K.M.,M.Kes.
- Tri Fira Yuniza, S.E.,M.Ak.
- Junardin Djamaluddin, S.P.,M.Si.,IALI.
- Raihan Nurzahid
- Nabil